Pada tahun 1392, Jenderal Yi Seong-gye mendirikan dinasti baru yang disebut Joseon.
Para penguasa awal Dinasti Joseon mendukung ajaran Konfusianisme sebagai filsafat
penuntun kerajaan, dengan tujuan melawan pengaruh Budha yang dominan selama masa
pemerintahan Dinasti Goryeo.
Para penguasa Joseon memerintah dinasti mereka dengan sistem politik yang sangat seimbang.
Sistem pengujian pamong praja merupakan alat utama dalam proses rekrutmen pegawai
pemerintah. Ujian ini berfungsi sebagai tulang-punggung mobilitas sosial dan aktivitas intelektual
periode ini. Masyarakat yang berorientasi pada Konfusianisme ini sangat menjunjung tinggi
proses pembelajaran akademik, namun mereka meremehkan perdagangan dan industri manufaktur.
Selama bertahtanya Raja Sejong yang Agung (1418-1450), yang merupakan raja keempat dari
Dinasti Joseon, bangsa Korea menikmati masa berkembangnya kebudayaan dan kesenian yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah bimbingan Raja Sejong, kaum cendekia pada
akademi kerajaan menciptakan alfabet Korea yang bernama Hangeul. Huruf ini kemudian
dinamakan Hunminjeongeum, atau “sistem fonetik yang tepat untuk mendidik masyarakat.”
Gyeongguk Daejeon
Raja Sejong juga memiliki minat yang luas pada ilmu astronomi.
Jam matahari, bola-bola angkasa, serta peta-peta astronomi diciptakan atas dasar
permintaannya. Selanjutnya, Raja Sejo (r.1455-1468) menyusun kerangka institusional
bagi pemerintah dengan menerbitkan sebuah ikhtisar peraturan perundang-undangan,
yang disebut Gyeongguk Daejeon.
Pada tahun 1592, Jepang menyerbu Semenanjung Korea untuk melancarkan jalan menuju
Cina. Di laut, Laksamana Yi Sun-sin (1545-1598), salah satu dari sejumlah tokoh yang paling
dihormati di Korea, memimpin serangkaian manuver-manuver ulung melawan pasukan
Jepang, dengan mengirimkan geobukseon (kapal-kapal penyu), yang dipercaya sebagai
kapal perang pertama di dunia yang dilapisi besi.
Sejak awal abad tujuh belas, sebuah gerakan yang menganjurkan Silhak, atau
pembelajaran mengenai hal-hal praktis, memperoleh momentum yang cukup banyak
di antara cendekiawan-pejabat yang berpikiran liberal sebagai alat untuk membangun
suatu bangsa yang modern.
Mereka sangat menganjurkan dilaksanakannya perbaikan-perbaikan dalam
bidang pertanian dan industri, sejalan dengan dilakukannya reformasi-reformasi
menyeluruh dalam hal pembagian tanah. Namun bagaimanapun juga, para bangsawan
dari pemerintahan yang konservatif belum siap untuk melakukan perubahan yang sedrastis itu.
Pada paruh kedua masa pemerintahan Dinasti Joseon, administrasi pemerintahan dan
kaum kelas atas ditandai oleh faksionalisme atau pembentukan golongan-golongan
yang muncul berulang-ulang. Untuk membereskan situasi politik yang tidak diinginkan,
Raja Yeongjo (r.1724-1776) akhirnya mengambil kebijakan yang tidak berpihak.
Dengan demikian ia mampu memperkuat kembali kewenangan raja dan menciptakan stabilitas politik.
Raja Jeongjo (r.1776-1800) berhasil mempertahankan politik tidak memihak dan
mendirikan perpustakaan kerajaan untuk menyimpan dokumen-dokumen dan catatan-catatan kerajaan.
Lukisan yang menggambarkan sebuah geobukseon, yang dipercaya sebagai kapal
perang pertama di dunia yang dilapisi besi
Ia juga memprakarsai reformasi-reformasi lain dalam bidang politik dan kebudayaan.
Pada periode ini sistem Silhak berkembang pesat. Sejumlah cendekiawan terkemuka
menulis karya-karya progresif yang menganjurkan dilaksanakannya reformasi-reformasi
dalam bidang pertanian dan kebudayaan, namun hanya sedikit pemikiran mereka
yang diadopsi oleh pemerintah.