Murid-murid menunjukkan program pendidikan korea
Delegasi murid sedang bermain di ensambel Samulnori sumber dari Putu Geniki L. Natih
Berangkat dari bandara internasional Sokarno Hatta pada pukul 4:00 sore tanggal 14 juni
penerbangan ke Seoul, Saya tidak sabar untuk mendapatkan
apa yang sedang menunggu kami
Minggu yang lalu sejak menerima undangan dari pemerintah Korea Selatan untuk bergabung
dalam program mahasiswa Universitas 2009 yang berasal dari BRICs
dan negara-negara Amerika Latin. kami cukup sibuk mempersiapkan perjalanan ini.
BRICs adalah kepanjangan dari negara-negara yang berkembang dengan cepat yang
Brazil, Russia, India dan China
Ada beberapa kunjungan ke kedutaan besar korea untuk mendapatkan program rencana
perjalanan dan staff pembantu dan untuk memberikan sebuah hadiah dari
Universitas Indonesia kepada Konselor Byun Chul Hwan, disamping pertemuan dua rekan
mahasiswa UI dan satu dari Universitas Gajah Mada yang akan ikut dalam perjalanan.
Pada akhirnya kami ada dalam perjalanan kami
Di organisasikan oleh National institute for international education yang berbasis di Seoul,
Republic Korea, program sepuluh hari ini mulai pada tanggal 15 sampai 25 Juni
yang mengumpulkan 32 mahasiswa yang berasal dari Indonesia, Russia, China, India ,
Sri ranka, Brazil, Chile, Guatemala, Paraguay dan Peru.
Kami diundang untuk mendapatkan pengalaman bukan hanya dari kehidupan
Universitas Korea saja, Tetapi juga untuk mengetahui kekayaan Korea yaitu musik,
opera sabun, makanan, monumen-monumen kuno dan modern, kaligrafi, seni teknologi,
ekonomi, seni Tae Kwon Do , penduduk-penduduknya dan masih banyak lagi.
NIED memainkan peran utama dalam pengembangan pendidikan internasional dan
dalam memajukan program pendidikan Korea Selatan yang baru guna meningkatan
angka mahasiswa asing 2010. Pada saat itu diprediksikan angka tersebut berlipat ganda.
Kedatangan dari bandara Incheon dini pagi hari pada tanggal 15 Juni, kejutan teknis
tiba-tiba di ketahui, saat kami ada di kereta bawah tanah Incheon ke area bagasi.
Kereta bawah tanah di Seoul terbukti dalam urutan kedelapan terbesar di dunia.
Disambut di terminal kedatangan oleh Ms. Jung Choon Lee, Deputi Manager Kerjasama
Internasional Universitas Yeungnam ,dan dua wakil mahasiswa, kami merasakan perhatian,
kebaikan, dan keramah tamahan yang digambarkan dari kesuluruhan program.
Saat kita sedang membawa bendera miniatur Indonesia dan Korea, mendiskusikan
simbol bendera untuk mengisi waktu kedatangan mahasiswa Brazil, Sri lanka,
dan, Guatemala di bandara.
Bendera Korea, Taegekgi, memiliki dua element penting yaitu "Eum & Yang" yang
menggambarkan cosmic forces sebagai tranquility dan aktivitas, kelemahan & kekuatan,
gelap & terang , pria & wanita, sedangkan merah putih pada bendera Indonesia
menggambarkan berani dan suci.
Selama satu setengah jam perjalanan bus dari bandara ke NIEED Center di Seoul
kami mendapatkan cahaya kota dan kehidupan pinggiran yang mengkonfirmasikan
Korea Selatan sebagai salah satu dari " Four Asian Tigers".
Cepatnya transformasi ke dalam pertumbuhan negara selama separuh abad ke20 telah
membuat sebagai "Miracle on the Han River". Ini adalah earned tempat ini diantara G20
ekonomi utama dan seperti Jepang dan Jerman Barat. Ini menjadi industralisasi
sejak tahun 1960 yang membuat Korea Selatan adalah satu dari 10 pengekspor dengan
tingkat simpanan kedua tertinggi di negara berkembang.
Secara signifikan, Negara ini memiliki jarak antara kaya dan miskin di antara
negara-negara asia dengan tingkat pendapatan tinggi.
Saat ini, Korea Selatan diklarifikasikan oleh Bank Dunia sebagai ekonomi pendapatan
tinggi dan ibu kota Seoul secara berkonsisten ditempatkan diantara
10kota-kota perekonomian dan komersil dunia.
Pada upacara pembukaaan di NIEED Center, kami sebagai partisipan merasa moto
Korea Selatan *To broadly benefit mankind' diekspresikan secara jelas lewat program
internasional ini. Kami belajar bahwah tujuan utama dari program adalah untuk memajukan
hubungan baik diantara negara dan sehingga kami diharapkan untuk belajar tentang
Kecantikan Korea dan menjadi penyampai pesan perdamaian
di negara-negara kami respective.
Hal itu meningatkan sejarah Korea Selatan dari pergumulan untuk mencapai perdamaian
lewat semangat mantan presiden Kim Dae-Jung yang menerima Nobel Perdamaian tahun
2000 untuk usahanya dalam demokrasi dan hak asasi manusia.
Ini juga seirama dengan semangat dari UN Secretary-General, Ban Ki Moon,
seorang warga negara Korea, untuk menggalakkan perdamaian antara negara-negara
dunia, untuk menghapus kemiskinan, dan untuk membawa pendidikan
utama bagi anak-anak dunia tahun 2015
Universitas Yeungnam, yang berjarak 4 jam dari Seoul, merupakan tuan rumah dari
keseluruhan program dimana kampusnya menjadi markas selama beberapa hari
selama kami menghadiri seminar dan ekskursi ke beberapa situs kultur.
Kami juga mengunjungi Universitas Postech universitas ternama di Korea Selatan
dalam bidang sains teknologi, dan Universitas Hanyang,
salah satu universitas teknik pertama di Korea.
Setiap harinya, acara diatur secara hati-hati agar memampukan kami dalam mengambil
bagian dalam aktifktas besar dari seminar, seminar ekonomi menjelajahi desa-desa
tradisional sampai ke wihara Bulguksa di Gyeongju yang megah,
yang pernah menjadi ibu kota dari kerajaan Silla.
Salah satu aktifitas favorit saya adalah belajar untuk bermain di Samulnori perkusi
orkestra tradisional korea. Pengalaman bermain gamelan Bali dari SMA menjadi
mudah dan mengasyikkan baik dalam belajar dan berbagi dari kultur Indonesia
saya yang tercinta. Musik adalah yang terpenting dalam suatu kultur dan transcended.
Ketika mengunjungi perusahaan kendaraan bermotor Hyundai, dengan segala keramahan
dan fasilitas yang memampukan kami untuk merasakannya, inovasi dan efisiensi yang
telah membuat Korea Selatan menjadi raksana dalam industri motor, Pengalaman yang
paling berharga dari semua adalah mampu untuk bertahan dengan keluarga Korea.
So Jeong Jung, teman baru saya, biasa dipanggil Jenny, adalah mahasiswa teknik mesin.
Lingkungan pendidikan dengan persaingan ketat dan dorongan kerja yang memotivasi
merupakan dua kunci utama faktor yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan di
Korea.
Saya senang pergi melihat model eletrik yang baru yang sedang dikembangkan oleh
fakultasnya, dan tinggal dengan keluarganya merupakan keistimewaan yang akan
selalu saya kenang. Orang tua Jenny adalah guru, seperti orang tua saya dan
neneknya membuatkan kami makanan spesial seperti yang nenek saya lakukan.
Mewakili berbagai kultur yang berbeda dan fakultas-fakultas dari ekonomi dan teknik
sampai lingustik dan komunikasi internasional ,Duta besar Korea dan delegasi
luar negeri membagikan optimisme jiwa muda , Humorisme dan jiwa belajar siswa-siswa
seluruh dunia. Masing-masing peserta Setiap kita akan membawa pulang spesial memori
dari program penghargaan yang berkesan ini. Untuk menghargai diri kita sendiri
dan orang lain merupakan yang terpenting dari menghargai dan untuk
membuat kehidupan di bumi lebih damai dan teratur.