Korean Flag   Flag
Search HomeSite map Mofat
  : Sep 17, 1973    
Indonesia
Info Korea
Info Umum
Sejarah
Budaya dan Seni
Hubungan Internasional
Bahasa
Pariwisata Korea
Kehidupan masyarakat Korea
Links
 
Perumahan/Pakaian/Makanan Home Home > Info Korea > Kehidupan masyarakat Korea > Perumahan/Pakaian/Makanan 프린트


Telah menjadi kepercayaan umum bahwa manusia Paleolitikum mulai menghuni 
Semenanjung Korea kira-kira 40.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, meski harus dipastikan
lagi apakah mereka betul-betul nenek moyang etnis dari bangsa Korea yang hidup pada 
masa kini. Sejumlah manusia Paleolitikum hidup di gua-gua, sedangkan yang lain membuat 
bangunan-bangunan di atas tanah yang rata. 

Mereka hidup dari buah-buahan, akar-akaran yang bisa dimakan, serta dari berburu 
dan menangkap ikan.

Manusia Neolitikum muncul di Korea sekitar 4000 SM, sedangkan tanda-tanda kehadiran 
aktif mereka berasal dari tahun 3000 SM, yang ditemukan di seluruh Semenanjung Korea. 
Dipercaya bahwa manusia Neolitikum merupakan nenek moyang bangsa Korea. 

Manusia-manusia Neolitikum tinggal dekat pantai dan tepian sungai sebelum 
masuk ke daerah pedalaman. Laut merupakan sumber utama makanan mereka. 
Mereka menggunakan jaring, kail, dan tali untuk menangkap ikan dan kerang. 
Berburu merupakan cara lain untuk memperoleh makanan. Mata panah dan ujung 
tombak banyak ditemukan di situs-situs Neolitikum. Berikutnya, mereka mulai bercocok 
tanam menggunakan cangkul dan sabit dari batu, serta batu gerinda.

Penanaman padi dimulai pada Zaman Perunggu, yang pada umumnya dipercaya 
berlangsung sampai tahun 400 SM di Korea. 

Manusia juga hidup di lubang-lubang bertutupkan jerami, sedangkan dolmen dan 
kuburan batu digunakan sebagai tempat penguburan pada zaman ini.

Ketika pertanian menjadi aktivitas utama, desa-desa terbentuk dan pemimpin dengan 
kekuasaan tertinggi muncul. Hukum menjadi sesuatu yang diperlukan untuk mengatur masyarakat. 
Di Gojoseon (2333 SM –108 SM) kitab undang-undang yang terdiri atas delapan pasal mulai digunakan, 
namun hanya tiga pasal yang diketahui sampai sekarang: Pertama, barangsiapa membunuh orang lain 
akan dibunuh. Kedua, barangsiapa yang melukai anggota badan orang lain harus menggantinya 
dengan memberikan padi.

Ketiga, siapa mencuri milik orang lain akan menjadi budak dari korban pencurian tersebut.


Taman Dolmen di Suncheon
Dolmen prasejarah dan peninggalan-peninggalan lain dipamerkan baik 
di tempat terbuka maupun di dalam ruangan sepanjang Danau Juam. 
Taman ini merupakan taman pertama Korea yang khusus digunakan sebagai 
tempat bagi batu-batu nisan kuno ini.

Perumahan

Hanok, rumah tradisional Korea, memiliki bentuk yang tidak berubah dari masa Tiga 
Kerajaan sampai akhir periode Dinasti Joseon(1392 –1910).

Ondol, sistem pemanasan bawah lantai khas Korea, digunakan untuk pertama kalinya di 
daerah utara. Asap dan panas yang dihasilkan oleh kompor-kompor dapur di atas tanah 
disalurkan melalui pipa asap yang dibangun di bawah lantai. Di daerah selatan yang lebih 
hangat, ondol digunakan bersama dengan lantai kayu. Bahan baku utama rumah-rumah 
tradisional adalah tanah liat dan kayu. Giwa, atau genteng atap beralur hitam, dibuat dari tanah, 
biasanya tanah liat warna merah. 

Kini, istana kepresidenan disebut Cheong Wa Dae, atau Rumah Biru karena rumah ini 
memiliki atap dengan genteng berwarna biru.


Ondol
Dalam pengertian modern, kata ini mengacu pada segala jenis sistem 
pemanasan bawah lantai atau ruangan yang mengikuti cara tradisional 
di mana orang makan dan tidur di lantai.

Hanok dibangun tidak menggunakan paku namun kayukayunya disatukan 
menggunakan pasak-pasak kayu. 

Rumahrumah untuk kaum kelas atas terdiri dari sejumlah bangunan terpisah, 
satu untuk menampung wanita dan anak-anak, satu untuk kaum laki-laki dalam keluarga 
dan tamu-tamu mereka, dan bangunan lain untuk para pembantu, yang kesemuanya dikelilingi 
oleh sebuah tembok. Tempat ibadah keluarga untuk menghormati arwah nenek moyang 
dibangun di belakang rumah. 

Sebuah kolam dengan bunga teratai kadang-kadang dibuat di depan rumah di luar tembok.

Bentuk rumah-rumah ini berbeda antara daerah utara yang lebih dingin dengan daerah 
selatan yang lebih hangat. Rumah-rumah sederhana dengan lantai berbentuk persegi panjang, 
dapur, serta sebuah kamar di tiap sisinya berkembang menjadi rumah berbentuk huruf L 
di daerah selatan. Hanok pada perkembangannya berubah bentuk menjadi mirip huruf U atau 
kotak yang mengelilingi sebuah halaman.

Dari akhir era 1960-an, pola rumah Korea mulai berubah cepat seiring dengan dibangunnya 
bangunan-bangunan apartemen bergaya Barat. Apartemen-apartemen tingkat tinggi telah 
menjamur di seluruh Korea sejak era 1970-an, namun sistem ondol tetap populer dengan 
pipa air panas menggantikan pipa asap di bawah lantai.


Desa Tradisional Namsangol di pusat kota Seoul


Pakaian

Rakyat Korea menenun kain dengan rami dan tanaman ararut (arrowroot) serta beternak ulat 
sutera untuk menghasilkan kain sutera. 

Pada jaman Tiga Kerajaan, lakilaki memakai jeogori (semacam jas), baji (celana panjang), 
dan durumagi (mantel luar) dengan topi, ikat pinggang, dan sepasang sepatu. 
Para wanita memakai jeogori (semacam jas pendek) dengan dua pipa panjang diikat untuk 
membentuk otgoreum (simpul), rok dengan panjang dari pinggang sampai ke bawah yang 
menutupi sekeliling tubuh bernama chima, sebuah durumagi, beoseon (kaos kaki katun warna
putih), dan sepatu berbentuk seperti perahu. 

Pakaian ini, dikenal dengan nama Hanbok, telah diturunkan selama ratusan tahun dengan 
bentuk yang hampir tidak pernah berubah baik untuk laki-laki maupun perempuan, 
kecuali dalam hal panjang jeogori dan chima.

Pakaian gaya Barat mulai dijual di Korea pada Perang Korea (1950 –53), dan pada masa 
proses industrialisasi yang berlangsung cepat di era 1960-an dan 1970-an, terjadi penurunan 
penggunaan Hanbok karena dianggap kurang tepat digunakan untuk keperluan santai. 
Namun, akhir-akhir ini para pecinta Hanbok telah berkampanye demi menghidupkan kembali 
Hanbok dan memperbaiki modelnya supaya lebih sesuai untuk dipakai dalam lingkungan modern. 

Beberapa warga Korea masih memakai pakaian tradisional Hanbok namun hanya terbatas 
pada hari-hari libur tertentu seperti Seollal dan Chuseok, serta pada pesta-pesta keluarga 
seperti Hwangap, perayaan ketika orangtua memasuki usia 60 tahun.


Pakaian tradisional Hanbok


Makanan


Makan malam tradisional lengkap


Para ibu rumah tangga sedang membuat kimchi

Di antara tiga unsur dasar kehidupan –rumah, pakaian, dan makanan –perubahan 
dalam hal kebiasaan makan memberikan  pengaruh paling besar bagi rakyat Korea. 
Nasi tetap menjadi makanan pokok bagi sebagian besar rakyat Korea, namun di antara 
generasi muda, banyak dari mereka yang lebih memilih makanan ala Barat.

Nasi biasanya disertai oleh berbagai macam makanan sampingan, terutama sayur-sayuran 
dengan banyak bumbu, sop, sayuran berkuah, dan daging.

Makanan tradisional Korea tidak akan lengkap tanpa kimchi, yakni campuran bermacam sayuran 
beracar seperti kubis cina, lobak, bawang hijau, dan ketimun. Jenisjenis kimchi tertentu 
sengaja dibuat pedas dengan tambahan bubuk cabe merah, sedangkan jenis yang lain 
dimasak tanpa cabe merah atau dimasukkan ke dalam cairan yang gurih. 


K
imchi Baechu

Meski demikian, bawang putih selalu digunakan untuk memasak kimchi untuk menambah
kelezatannya.

Pada akhir bulan November atau awal bulan Desember, keluarga-keluarga Korea pada jaman 
dahulu mempersiapkan kimchi dalam jumlah memadai untuk sepanjang musim dingin yang 
panjang. Kimchi disimpan dalam guci besar dari tanah liat, yang kemudian ditanam sebagian 
di tanah demi menjaga suhu dan rasanya. 

Di Korea masa kini, para ibu rumah tangga sering tidak punya waktu untuk membuat kimchi, 
atau tanah luas di luar rumah yang diperlukan untuk menyimpan kimchi dalam jumlah besar.

Walau demikian, kimchi tetap menjadi bagian penting gaya hidup masyarakat Korea: 
perusahaan-perusahaan yang membuat makanan yang difermentasi dan perusahaan lainnya 
yang menjual kulkas khusus untuk kimchi mampu meraup keuntungan dalam waktu cepat.

Selain kimchi, doenjang (pasta kedelai), dengan unsur-unsurnya yang mampu melawan 
kanker, telah menarik perhatian para ahli gizi masa kini. Masyarakat Korea pada jaman dahulu
biasa membuat doenjang di rumah dengan merebus buncis warna kuning, mengeringkannya 
di tempat yang teduh, memasukkannya ke dalam air garam, dan mengawetkannya dengan 
menaruhnya di bawah sinar matahari. 

Akan tetapi, hanya sedikit keluarga yang masih menerapkan proses pembuatan seperti ini; 
sebagian besar cukup membeli doenjang buatan pabrik.


Bulgogi, makanan dengan daging sapi paling populer di Korea

Di antara makanan-makanan berdaging, bulgogi (biasanya daging sapi) yang telah 
dibumbui dan galbi (iga sapi atau babi) merupakan yang paling disukai baik oleh masyarakat 
Korea sendiri maupun orang asing.





  
Ddeokguk
Telah menjadi tradisi Korea untuk memulai Tahun Baru dengan memakan 
semangkuk besar sup kue beras untuk membawa keberuntungan

퀵메뉴
Visas
Q&A
FAQ
외교통상부 재외공관 Privacy Policy | Contact Us
Copyright ⓒ 2007 Ministry of Foreign Affairs and Trade All rights Reserved.